Tuesday, October 11, 2016

Tetap positif di Masa Sulit

Hampir tiga bulan blog saya seperti rumah yang ditinggal penghuninya. Saya bukan saja meninggalkan blog tapi bahkan tidak menulis sama sekali. Padahal beberapa bulan lalu, saya sangat menggebu-nggebu dalam menulis. Saya bela-belain pergi sana-sini buat mengaktualkan potensi tulis tinulis saya. Apa mau dikata, kenyataan tidak selalu seperti yang kita rencanakan. Tapi tak usah disesali, semua tetap bisa disyukuri.

Kali ini, sekali lagi saya melakoni aktivitas yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Bahkan tidak pernah sekalipun muncul dalam imajinasi saya sejak kecil. Sekarang kerjaan saya di dapur dan melayani orang-orang yang mau mencicipi masakan saya. Saya melakoninya karena alasan klasik, "Tuntutan dan keterdesakan hidup". Apalagi yang bisa membuat seseorang melakoni sesuatu yang begitu berbeda, selain karena tuntutan untuk survive. Kalau kamu sekarang mengalami hal yang sama dengan saya, percayalah bahwa itu adalah hal yang biasa. Tidak perlu merespon dengan heboh apalagi jadi stress. Ini adalah 'scene' hidup yang wajar dan fitrawi.

Kejadian semacam ini bisa menimpa siapa saja, bahkan hampir tiap orang. Kisahnya bisa jadi mirip-mirip, tapi yang membedakan adalah bagaimana setiap orang menjalaninya. Ada yang tegak seperti batang bambu, ada yang mengeluh tak berkesudahan, ada yang santai-santai saja, ada juga yang putus asa dan mengakhiri hidup (it's so tragic!).

Menjalani masa-masa seperti ini tentu saja kadang muncul rasa sedih, apalagi kalau sedang lelah dan bosan. Tapi kawan, saya selalu percaya sesuatu datang bukan tanpa maksud. Oleh karena itu, agar saya bisa terus survive, saya selalu melakukan hal-hal ini:
  1. Mensyukuri hal-hal baik yang masih saya miliki. Kita biasanya paling sering menyesali apa yang tidak bisa kita miliki, jadi terasa menjadi orang yang paling malang. Padahal banyak yang masih kita miliki, seperti nikmat kesehatan, masih bisa punya tempat berteduh, gak kehujanan, gak kelaparan, bahkan masih ada sahabat yang mendengarkan keluh kesah kita, itu juga perlu disyukuri loh. Dan yang paling harus disyukuri adalah kita masih diberi hidup. Itu artinya, kita masih punya kesempatan untuk mewujudkan harapan dan cita-cita kita. Karena saya muslim, saya sering baca surat Ar Rahman, tentu saja beserta terjemahannya. Kalau sudah baca ayat-ayat itu..nyeeessss,, ternyata banyak sekali nikmat Allah yang dapat kita syukuri. Sering-sering baca surat Ar Rahman ya.  
  2. Melihat sisi positif yang bisa saya dapat di situasi saat ini. Saat kita dihimpit masalah, selalu yang nampak besar adalah sisi negatifnya. Susah, sedih, capek, rumit, sakit, pokoknya merana deh. Tapi kita jarang melihat efek positif dari kejadian yang kita alami. Misal, saat kita harus mengerjakan bidang baru berarti kita punya kesempatan untuk upgrade kualitas diri. Siapa tahu di medan baru, rejeki justru lebih besar, ketemu jodoh atau bikin lebih terkenal.
  3. Apa yang kita miliki sesungguhnya bukanlah milik kita. Kamu merasa kehilangan? wait wait wait, yakin kalau yang kamu anggap hilang itu adalah milik kamu? Sepertinya perlu didudukkan kembali apa yang sebenarnya miliki kita dan bukan. Bukannya segala yang ada di langit dan bumi ini kepunyaan Allah? kita cuma dikasih amanah buat menjaga dan melestarikan. Justru apa yang sudah jadi punya kita adalah apa yang sudah kita perjuangkan di JalanNya. Harta yang sudah kita sedekahkan, waktu-tenaga-pikiran-karya yang sudah kita gunakan beramal sholih, itulah kepunyaan kita sesungguhnya. Jadi nggak usah terlalu risau kalau ada yang hilang, tapi rasaulah kalau tabungan amal nggak banyak. Maunya sih hidup seribu tahun lagi, tapi kalau waktunya cuma tinggal besok gimana?
Udah itu aja. Saya cuma berpengang sama tiga hal itu, selain tentu saja tetap berserah dan memohon pertolongan hanya pada Allah. Saat ini saya belum keluar dari situasi rumit, tetapi ini bukan yang pertama buat saya. Hidup saya sudah seperti rollercoaster dan memang begitulah adanya hidup. Jika kemarin saya bisa melewatinya, hari inipun pasti bisa dan esokpun pasti juga bisa. Proses ini bukan soal kemenangan atau kekalahan, tapi tentang konsistensi dan terus teguh dalam keyakinan.