Friday, December 30, 2016

Arti Kemenangan

"Saya tidak boleh kalah! Kemenangan adalah syarat mutlak menjadi manusia mulia di hadapanNya", begitu kira-kira tekad keras saya dahulu.

Obsesi untuk mencapai target dan berprestasi itu sangat tinggi. Kemenangan buat saya saat itu adalah ketika saya bisa menjalankan tugas-tugas, baik di pendidikan maupun di pekerjaan. Kemenangan bagi saya adalah capaian terukur yang bisa dilihat dengan angka, karya dan pengakuan. Saya akan malu jika kalah. Bukan hanya malu pada lingkungan sosial saya, tetapi juga malu pada Allah. Saya merasa menjadi manusia yang tidak ada gunanya di hadapan Allah, jika saya kalah dan hanya menjadi manusia yang biasa saja.

Suatu ketika, saya merasa berada pada kekahalan yang menurut saya sangat tragis. Saya berada di titik terbawah karena prestasi dan capaian-capaian saya terhempas begitu saja. Saya sempat merasa kalah, tidak berguna dan bertekad suatu ketika akan membalas kekalahan itu. Akan saya tunjukkan suatu ketika, bahwa saya tidaklah seperti apa yang orang bicarakan dan pikirkan tentang saya. Akan saya ganti prestasi yang terhempas itu dengan capaian baru yang jauh lebih baik dari itu. Suatu hari saya bertanya, "Pengakuan dari siapa yang sebenarnya ingin saya dapatkan?".

Hari ini saya masih terobsesi dengan kemenangan, tetapi dengan arti kemenangan yang berbeda. Kemenangan buat saya hari ini adalah istiqomah dalam jalan kebenaran. Jalan kebenaran itu adalah sebuah jalan yang kita lewati dengan iman dan taqwa.


"Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku." (QS Al Fajr 27-30)

Perjalanan dalam iman itu bukan saat kita bisa mengalahkan kompetitor atau musuh yang berwujud manusia-manusia. Adakalanya kemenangan dalam iman itu kita dapatkan saat kita kalah dalam sebuah kompetisi atau perang dengan manusia. Kemenangan dalam iman itu adakalanya bukan saat kita berhasil mendapatkan jabatan tinggi dan karir gemilang, tetapi justru kita dapatkan saat kita kehilangan jabatan, karir, harta bahkan persahabatan. Kemenangan dalam iman itu adakalanya bukan saat kita kuat dalam adu argumen dan pengaruh. Justru saat kita bisa menurunkan ego dan mengalah, bisa jadi kita justru menang.

Buat saya sekarang, kemenangan yang ingin saya capai adalah di saat kondisi saya secara materi terlihat tak memiliki banyak, namun saya masih tak kehabisan syukur. Di saat seperti itu saya malah tak habis-habis menghitung nikmatNya yang berlimpah. Betapa lebih indahnya di saat saya tak memiliki namun justru bisa memberi. Kemenangan yang ingin saya capai adalah di saat kondisi saya serba melimpah secara materi, saya merasa bahwa itu sama sekali bukan milik saya. Itu hanya titipan dari Allah yang harus saya berikan pada yang lebih berhak.

Kemenangan yang ingin saya capai adalah ketika saya jatuh terjerembab, saya merasakan nikmatnya berjuang melawan sakit dan berusaha untuk bangkit. Saat-saat yang akan selalu saya rindukan, karena justru saat itu terasa begitu intim denganNya. Kemenangan yang ingin saya capai adalah saat saya berada di posisi atas, saya ingin buru-buru turun dan menyerahkan estafet perjuangan pada yang lain. Memberi kesempatan pada yang lain untuk tumbuh dan saya bisa menanam benih perjuangan baru lagi untuk diestafetkan pada yang lain lagi.


Tentu saja itu bukan hal yang mudah dan jadi mimpi yang terlalu tinggi untuk saya gapai. Semoga saya bisa bersabar dalam meraih kemenangan itu. Tulisan inipun setidaknya akan jadi pengingat untuk saya di kemudian hari. Tulisan ini akan mengingatkan saya bahwa saya pernah punya harapan akan sebuah kemenangan yang indah. Kemenangan yang sebenarnya, bukan kemenangan semu duniawi.

"Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang" (QS AL Mu'minuun 111)

Tuesday, October 11, 2016

Tetap positif di Masa Sulit

Hampir tiga bulan blog saya seperti rumah yang ditinggal penghuninya. Saya bukan saja meninggalkan blog tapi bahkan tidak menulis sama sekali. Padahal beberapa bulan lalu, saya sangat menggebu-nggebu dalam menulis. Saya bela-belain pergi sana-sini buat mengaktualkan potensi tulis tinulis saya. Apa mau dikata, kenyataan tidak selalu seperti yang kita rencanakan. Tapi tak usah disesali, semua tetap bisa disyukuri.

Kali ini, sekali lagi saya melakoni aktivitas yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Bahkan tidak pernah sekalipun muncul dalam imajinasi saya sejak kecil. Sekarang kerjaan saya di dapur dan melayani orang-orang yang mau mencicipi masakan saya. Saya melakoninya karena alasan klasik, "Tuntutan dan keterdesakan hidup". Apalagi yang bisa membuat seseorang melakoni sesuatu yang begitu berbeda, selain karena tuntutan untuk survive. Kalau kamu sekarang mengalami hal yang sama dengan saya, percayalah bahwa itu adalah hal yang biasa. Tidak perlu merespon dengan heboh apalagi jadi stress. Ini adalah 'scene' hidup yang wajar dan fitrawi.

Kejadian semacam ini bisa menimpa siapa saja, bahkan hampir tiap orang. Kisahnya bisa jadi mirip-mirip, tapi yang membedakan adalah bagaimana setiap orang menjalaninya. Ada yang tegak seperti batang bambu, ada yang mengeluh tak berkesudahan, ada yang santai-santai saja, ada juga yang putus asa dan mengakhiri hidup (it's so tragic!).

Menjalani masa-masa seperti ini tentu saja kadang muncul rasa sedih, apalagi kalau sedang lelah dan bosan. Tapi kawan, saya selalu percaya sesuatu datang bukan tanpa maksud. Oleh karena itu, agar saya bisa terus survive, saya selalu melakukan hal-hal ini:
  1. Mensyukuri hal-hal baik yang masih saya miliki. Kita biasanya paling sering menyesali apa yang tidak bisa kita miliki, jadi terasa menjadi orang yang paling malang. Padahal banyak yang masih kita miliki, seperti nikmat kesehatan, masih bisa punya tempat berteduh, gak kehujanan, gak kelaparan, bahkan masih ada sahabat yang mendengarkan keluh kesah kita, itu juga perlu disyukuri loh. Dan yang paling harus disyukuri adalah kita masih diberi hidup. Itu artinya, kita masih punya kesempatan untuk mewujudkan harapan dan cita-cita kita. Karena saya muslim, saya sering baca surat Ar Rahman, tentu saja beserta terjemahannya. Kalau sudah baca ayat-ayat itu..nyeeessss,, ternyata banyak sekali nikmat Allah yang dapat kita syukuri. Sering-sering baca surat Ar Rahman ya.  
  2. Melihat sisi positif yang bisa saya dapat di situasi saat ini. Saat kita dihimpit masalah, selalu yang nampak besar adalah sisi negatifnya. Susah, sedih, capek, rumit, sakit, pokoknya merana deh. Tapi kita jarang melihat efek positif dari kejadian yang kita alami. Misal, saat kita harus mengerjakan bidang baru berarti kita punya kesempatan untuk upgrade kualitas diri. Siapa tahu di medan baru, rejeki justru lebih besar, ketemu jodoh atau bikin lebih terkenal.
  3. Apa yang kita miliki sesungguhnya bukanlah milik kita. Kamu merasa kehilangan? wait wait wait, yakin kalau yang kamu anggap hilang itu adalah milik kamu? Sepertinya perlu didudukkan kembali apa yang sebenarnya miliki kita dan bukan. Bukannya segala yang ada di langit dan bumi ini kepunyaan Allah? kita cuma dikasih amanah buat menjaga dan melestarikan. Justru apa yang sudah jadi punya kita adalah apa yang sudah kita perjuangkan di JalanNya. Harta yang sudah kita sedekahkan, waktu-tenaga-pikiran-karya yang sudah kita gunakan beramal sholih, itulah kepunyaan kita sesungguhnya. Jadi nggak usah terlalu risau kalau ada yang hilang, tapi rasaulah kalau tabungan amal nggak banyak. Maunya sih hidup seribu tahun lagi, tapi kalau waktunya cuma tinggal besok gimana?
Udah itu aja. Saya cuma berpengang sama tiga hal itu, selain tentu saja tetap berserah dan memohon pertolongan hanya pada Allah. Saat ini saya belum keluar dari situasi rumit, tetapi ini bukan yang pertama buat saya. Hidup saya sudah seperti rollercoaster dan memang begitulah adanya hidup. Jika kemarin saya bisa melewatinya, hari inipun pasti bisa dan esokpun pasti juga bisa. Proses ini bukan soal kemenangan atau kekalahan, tapi tentang konsistensi dan terus teguh dalam keyakinan.

Thursday, July 28, 2016

Tak Perlu Menunggu Maaf

Tulisan saya ini harusnya diposting saat hangat-hangatnya moment lebaran. Tetapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali kan? Buat saya pribadi persoalan tentang maaf-memaafkan tidak hanya saat lebaran saja. Meski dengan moment lebaran adalah waktu kondusif untuk maaf dan memaafkan. Jika ego di hari biasa sangat tinggi atau karena kesibukan lantas terlupa untuk saling maaf dan memaafkan, maka hari lebaran mengingatkan kita untuk melakukannya.

Meski tradisi halal bi halal tidak secara langsung merupakan tradisi Islam yang diwariskan pada zaman Nabi Muhammad, namun tradisi ini memiliki manfaat positif. Hal yang baik dan memberikan maslahat tentu saja harus terus dipertahankan. Terlebih di Al Qur’an sendiri juga memerintahkan umat Islam untuk menjadi pribadi pemaaf, sebagaimana firman Allah : Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim (Q.S Asy Syuraa 40). Kendati membalas kejahatan dengan setimpal adalah hal yang wajar, namun memaafkan adalah lebih baik.

Tentang manfaat maaf-memaafkan sendiri sudah sering kita dengar tentunya, terutama dalam hubungan sosial. Hal ini akan mempererat silaturahmi dan mendamaikan yang sedang berselisih sehingga terciptalah ukhuwah islamiyah. Melupakan masa lalu dan menyambut hari baru. Seperti istilah yang sering kita dengar, “Mulai dari nol lagi ya”. Itu artinya, segala masalah di masa lalu tidak lagi dipersoalkan.

Saya pribadi punya pemaknaan lebih besar pada proses maaf-memaafkan ini. Proses ini dapat menjadi pelatihan dalam peningkatan kualitas kepribadian kita. Jika kita sedang berselisih atau terlibat masalah dengan orang lain, tentu kita akan mencari siapa yang harusnya bertanggungjawab. Jika kita merasa berada di posisi benar, jangankan untuk mengalah atau meminta  maaf, mau memaafkan kesalahan saja kita akan berpikir berulang kali. Rasanya tidak cukup kata maaf untuk membayar semua kesalahan terhadap kita. Kata maaf itu terlalu simple untuk menebus kesalahan. Maaf itu terlalu mahal untuk diberikan.

Tidak berbeda dengan yang berada di posisi bersalah. Rasa malu selalu datang ketika melakukan suatu kesalahan. Apalagi jika kesalahan itu cukup besar dan diketahui banyak orang. Jika kita punya status sosial tinggi, memulai untuk minta maaf akan menjadi beban yang semakin berat. Meminta maaf seolah akan mengakhiri dunia dan menjatuhkan harga dirinya.

Dalam kacamata hitam putih, kita tentu akan berpegang pada yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Ketika dibawa dalam konteks maaf dan memaafkan, maka yang salah yang harus minta maaf pada benar. Bahkan ada juga yang memandang bahwa ada kesalahan yang sampai kapanpun tidak akan termaafkan. Memang benar, ada kesalahan-kesalahan yang sulit kiranya untuk dimaafkan tetapi apakah memang benar tak termaafkan? Untuk apa kiranya perseteruan itu perlu dipertahankan? Tidakkah keseimbangan sistem sosial harus diutamakan?

Saya pernah melihat cuplikan video yang di dalamnya terdapat sepenggal permintaan maaf Gus Mus dalam Muktamar NU ke 33 di Jombang yang sempat berjalan ricuh. Beliau menyampaikan, “Saya dengan kerendahan hati mohon maaf, mohon keikhlasan Anda sekalian. Maafkanlah mereka maafkanlah Saya. Kesalahan itu kesalahan Saya.. kesalahan Saya sebagai penanggungjawab maka saya yang meminta maaf kepada anda sekalian. Mudah-mudahan Anda merelakan hati untuk memaafkan Saya…. Maafkanlah, lupakanlah itu. ingatlah bahwa Nahdlatul Ulama jauh lebih besar dari persoalan tetek bengek itu” Saya jadi bertanya-tanya, kenapa Gus Mus sampai meminta maaf seperti itu, hingga beliau menangis? Bukankah seharusnya mereka yang gaduh harus meminta maaf? Mereka yang mengabaikan aturan dan tidak mendengarkan kebijakan Gus Mus sebagai pimpinanlah yang menurut saya bersalah.

Dari situ saya belajar ternyata terkadang maaf itu bukan sekedar soal siapa yang benar dan salah. Tetapi lebih jauh dari itu, maaf adalah tentang kebesaran hati dan kebijaksanaan. Maaf bukan sekedar tentang pertahanan ego, tetapi justru menundukkan kesombongan dalam diri. Di kondisi tertentu, maaf bisa menjadi awal dalam membangun ruang kondusif dalam mengembalikan situasi ke titik seimbang.
Ketika orang lain meminta maaf pada kita, mungkin kita merasa menjadi orang yang menang dan benar. Padahal jika kita yang justru mengawali meminta maaf, ada kemuliaan akhlak yang kita lakukan. Terlepas apakah kita yang seharusnya benar atau salah. Sesungguhnya kita sudah menang melawan ego, kesombongan dan hawa nafsu di dalam diri kita sendiri. Kita mungkin menjadi seolah kalah di hadapan orang lain, tetapi kita mampu melatih kepribadian dan kekuatan batin. Jika ada persoalan yang datang di kemudian hari, kita tidak mudah tersulut emosi, tidak mudah terbakar amarah dan menyimpan bara dendam. Kita lebih terbiasa mengoreksi ke dalam sebelum keluar. Kita akan waspada terhadap kekhilafan dan segera berbenah jika salah.

Memahami hal di atas, sangat disayangkan jika maaf hanya sekedar kata terucap tanpa makna dan rasa. Padahal terdapat suatu proses pelatihan mental, kelapangan hati dan kebijaksanaan dalam di dalamnya. Jika kemarin kita sudah mengucapkannya berulang kali di hari lebaran, apakah benar merupakan maaf sepenuh hati atau masih menyimpan amarah dan dendam?

Tanpa perlu merinci siapa yang salah dan saling menunggu permintaan maaf, mari memulai mengucap maaf. Mari berbesar hati untuk meminta maaf kepada orang yang meskipun mereka pernah menyakiti kita, jangan-jangan itu karena kita yang lebih dulu menyakiti mereka.

#Islam Indah dalam ukhuwah

Thursday, June 23, 2016

Batas Manusia yang Sering Terlupa

Manusia merupakan makhluk yang lebih tinggi dibanding makhluk ciptaan Allah yang lain. Saat diciptakannya Adam, semua makhluk disuruh sujud padanya oleh Allah. Karena pada makhluk yang satu ini diberikannya ilmu pengetahuan dan berbagai kelebihan dibandingkan yang lainnya. Manusia memiliki akal, rasa, kehendak, hawa nafsu dan segala perangkat di dalam dirinya. Ia bisa menalar, belajar, berkembang, membuat sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh makhluk lain. Untuk itulah dibebankan amanah kepadanya untuk menjadi khalifah di bumi ini.

Namun di balik kelebihan tersebut, manusia tetaplah manusia. Ia bisa benar namun juga salah. Ia bisa menghasilkan sesuatu yang benar tetapi tidaklah benar-benar sempurna. Ia bisa menalar sedemikian jauh, tetapi tetap tidak dapat menembus yang gaib dan tersembunyi di dalam hati. Secerdas apapun seorang manusia, masih saja dapat salah. Sebaik apapaun manusia, ada saja khilafnya.
Sering-sering kita mengingat hal ini agar kita tidak menjadi manusia yang melampaui batas. Kita tentu pernah melakukan analisa dan penilaian bahkan selalu. Dalam melihat dan merespon sesuatu, kita akan melakukan proses tersebut, lupanya kita akan kemungkinan kita bisa salah akan membawa kita pada jebakan hawa nafsu. Saat kita menganggap apa yang kita pahami adalah final dan paling benar, saat kita mulai meremehkan orang lain, menyalahkan tanpa mau mendengar, atau mendengar tapi sudah tak mau memahami, saat itulah pintu kebenaran tertutup.

Terlebih dalam persoalan hati. Dunia sekitar kita kadang sangat mudah menjustifikasi. Kadang bahkan sampai saling mengkafirkan, memunafikkan dan menstatusi pendosa. Padahal Allah sendiri selalu membuka lebar pintu taubat bagi yang bersungguh-sungguh. Kita bisa melihat seseorang beramal puluhan atau ratusan juta. Tetapi dapatkah kita mengetahui apa yang ada di dalam hatinya? Apa tujuannya? Ia bisa bermain peran sangat cantik, tetapi sungguhkah kita bisa menerka yang ada di dalam hatinya? Kita hanya bisa menerka, menganalisa bisa saja benar, tetapi bisa saja salah. Saya jadi berpikir adanya sistem peradilan hukum yang begitu kompleks dengan adanya hakim, juri, pengacara, jaksa, saksi, ahli, dsb adalah suatu bentuk sistem yang sangat berhati-hati dalam menetapkan status dan hukuman bagi seseorang. Jika memutuskan yang salah, tentu itu akan merugikan bahkan menghancurkan seseorang. Tentu saja itu bisa jadi suatu kedzaliman. Dan kenyataannya banyak sekali terjadi salah tangkap atau korban kriminalisasi.

Apalagi kita yang dalam kehidupan sehari-hari tanpa melalui proses yang sedemikian kompleks seperti itu. Satu orang bicara, sangat mudah diikuti oleh yang lain. Kadang kita sendiri yang menilai dengan data dan analisa yang terbatas, tetapi kemudian kita jadikan kebenaran absolut. Kita sebarkan suatu kesimpulan yang butuh dievaluasi ulang. Kita tak sadar, dugaan sudah kita jadikan kesimpulan. Realitas kita baca dengan frame tertentu. Kecondongan atau prasangka kita jadikan pijakan dalam analisa. Lalu kita klaim sebagai hal benar dan paling benar. Saat ada yang menyanggah dan memberikan pandangan lain segera kita abaikan bahkan kita hujat. Yah, kita jadi lupa sehingga kadang mengambil peran Tuhan sebagai yang Maha benar dan Maha tahu.

Tentu jangan sampai kita takut menyampaikan hal yang benar, tetapi alangkah baiknya jika kita tetap tahu batas. Apakah kita sudah benar-benar berproses dengan baik untuk membedah suatu realitas, menganalisa dengan teliti dan metode yang ketat untuk suatu kesimpulan? Atau kita sekedar ikut, “katanya” atau “dengar-dengar begitu”. Bukankah kelak semua akan dimintai pertanggungjawaban. Marilah kita tahu batas kita dan senantiasa berhati-hati agar tak salah meyalahkan orang lain apalagi membuat orang lain saling tuding dan tuduh.

Wednesday, June 22, 2016

Merindukan Islam yang Satu

Tantangan umat islam hari ini bukan saja dihadapkan pada pengaruh eksternal yang menguji iman. Tidak hanya sekedar tentang bagaimana saat umat Islam puasa, ada non muslim yang tidak puasa. Tentang bagaimana jika kita punya tetangga non muslim yang sedang merayakan hari besarnya. Tentang bagaimana skema kerjasama yang harus dibangun oleh muslim dengan non muslim agar tidak membawa pada perselisihan tetapi juga tetap menjaga akidah. Bukan cuma itu. Tantangan hari ini justru saya rasakan semakin besar ada pada sesama muslim sendiri.

“Sesama muslim bersaudara”, agaknya mulai jadi jargon semata. Ada hadits yang menyebutkan: “Seorang mukmin bagi mukmin yang lain ibarat satu bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya. Kemudian Rasulullah menggenggam jari-jemarinya.” (Bukhari & Muslim). Di dalam surat Al Hujurat ayat 10 juga disebutkan, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

Bukankah dari sini ditunjukkan ada ikatan yang sangat dekat antara saudara muslim, meski tidak punya ikatan darah, tidak terikat geografis. Saya belum pernah naik haji ataupun umrah, tetapi sungguh bergetar hati dan penuh haru saat melihat begitu banyak umat muslim dalam masjidil haram berjalan mengelilingi ka’bah, berputar pada orbit yang sama. Mereka sholat dan sujud pada Allah yang ahad, menghadap satu kiblat. Siapa mereka dan dari mana tak lagi bisa dibedakan. Tak ada perbedaan apakah pejabat atau rakyat, apakah dari timur atau barat, punya gelar akademis atau tidak, dan dari organisasi islam apa. Semua berbalut kain sederhana tanpa perhiasan dunia dengan satu kiblat yang sama.
Sungguh saya rindu pada Islam ketika Nabi besar Muhammad memimpin umat. Setiap kali membaca sejarah islam di masa nabi, ada rasa haru dan rindu yang berkecamuk. Mungkin ada yang berpendapat bahwa kesuksesan beliau menyebarkan islam karena strategi politik dan diplomasi yang handal. Tetapi menurut saya, kebesaran Nabi Muhammad jauh melampaui sekedar strategi saja. Nabi Muhammad memiliki keagungan akhlak yang menyatu dalam seluruh kehidupan beliau. Keagungan itu bahkan membuat musuh beliau menjadi hormat dan kemudian tunduk. Bukan sekedar karena Nabi mengangkat pedangnya, tapi kebijaksanaan dan keluhuran budi beliau.

Dalam sebuah riwayat pernah diceritakan bahwa Rasulullah sangat marah ketika Usamah membunuh seorang bekas pasukan musuh padahal orang tersebut sudah bersyahadat. Nabi marah besar mendengar cerita Usamah dan berkata, “Apakah engkau membunuh orang yang telah mengatakan tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah?. Nabi juga berkata, “Apakah kamu sudah membelah hatinya (sehingga kamu tahu kalau dia berbohong)? (HR. Bukhari dan Muslim). Sebegitu hati-hatinya Nabi dalam menghakimi dan menghukumi keimanan seseorang. Ada juga riwayat lain tentang Nabi Muhammad yang memberi makan seorang yahudi buta tiap hari padahal orang itu selalu menghina Nabi Muhammad. Namun Nabi tidak marah sedikitpun dan terus memberinya makan.

Saat ini, kita begitu mudah mendidih bila ada yang berseberangan pandangan, apalagi jika ada yang mencela kita. Seolah harga diri kita hancur, nama baik kita tercemar kemudian mengobarkan maklumat perang. Menyalakan permusuhan semudah menyalakan korek api. Tidak jarang hal itu terjadi pada sesama umat Islam. Ah, siapa kita sebenarnya, yang tidak pernah bisa melampaui kebesaran Nabi, yang tidak lebih mulia dari para sahabat Nabi. Namun kadang melampaui batas kemanusiaan dan berhasrat menjadi Tuhan secara tak sadar. Kita yang baru belajar menafsirkan perilaku nabi, baru belajar meneladani Nabi menasbihkan diri sebagai manifestasi terbaik dari pemikiran dan perilaku Nabi Muhammad SAW. Padahal bisa jadi meneladani satu saja sifatnya saja kita tidak sempurna.

Di era global ini, kita berada di masa masyarakat berkembang sangat jamak. Islam sendiri menjadi banyak aliran. Satu aliran memiliki banyak organisasi. Ada organisasi yang bergerak sama dalam satu  bidang/sektor, ada yang berbeda bidang/sektor. Setiap organisasi memiliki pemimpin dan jamaah yang berimplikasi pada perbedaan pemikiran, kultur dan aturan. Di antara mereka ada yang sama di basic tauhid, tapi beda di fiqh. Perbedaan fiqh itu ada yang sebagian besar berbeda, tetapi ada yang hanya berbeda di beberapa aspek teknis saja. Ada juga yang berbeda di metode berpolitik dan kepemimpinan, dsb. Perbedaan itu sering menjelma menjadi permusuhan bahkan berujung saling tafkir.

Saya jadi banyak bertanya, sebenarnya yang disebut Rabbul’alamin dan Islam Rahmatan lil’alamin dalam pandangan mereka yang seperti apa? Saat bicara tentang Tuhan semesta alam, seakan hanya segolongan yang sempurna menafsirkan ajaran Tuhan. Saat kita bicara ingin Islam menjadi rahmat semesta alam, agaknya masih perlu pertanyaan lanjutan, “Islam yang mana yang menjadi rahmat?”. Apakah hanya islam segolongan orang saja, islam menurut jamaah tertentu saja atau islam yang mana? Islam yang tauhid, yang berpegang pada Qur’an dan sunnah. Lalu  masih ada pertanyaan lagi, Qur’an dan sunnah dari tafsir siapa? Jadi, Islam yang mana yang rahmat itu?

Bukan berarti akhirnya semua yang mengaku Islam itu senantiasa benar ajarannya. Tentu ada diantaranya yang hanya ngaku-ngaku Islam dan keluar batas dari ajaran Islam itu sendiri. Maka tentu ada standar minimal orang ataupun golongan yang berislam. Dan yang harus selalu kita ingat, bahwa seberapapun salahnya seseorang ataupun golongan dalam menerapkan hukum Islamnya, yang merasa dirinya umat Islam sejatipun tidak boleh dzalim pada yang selainnya. Dzalim itu tentunya yang berlebihan atau melampaui batas. 

Menurut pendapat saya, berfokus pada bagaimana bijaksana dalam menyikapi perbedaan itu jauh lebih penting daripada perbedaan itu sendiri. Perbedaan pendapat sejak jaman nabi dan para sahabat sudah alamiah terjadi. Perbedaan itu kadang sangat keras dengan perdebatan yang panas antar sahabat. Tapi kita sering lupa bagaimana perbedaan itu disikapi dan tetap berujung pada persatuan islam. Kita sering hanya melihat kerasnya perbedaan itu, apalagi setelah peristiwa tahkim. Kita menjadi terfokus pada perbedaan pandangan dan aliran antara khawarij, pendukung Ali dan pendukung Mu’awiyah. Di masa selanjutnya, perbedaan itu malah semakin banyak dan membagi-bagi umat islam dalam ahlul hadits dan ahlul ra’yi, Qadariyah dan jabariyah, tradisional dan moderat, ritual dan sosial, Jamaah A dan jamaah B. Semakin hari kita berfokus pada detil tiap perbedaan, bukan pada apa yang masih sama. Berlomba-lomba dalam kebaikan yang kita terapkan dalam agama menjadi seperti ajang kompetisi antar perusahaan. Mengunggulkan brandnya sendiri, mencela produk kompetitornya bahkan mematikan usaha lawannya. 

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al Anbiyaa’ 107). Ada sebuah riwayat menceritakan ketika sebagian sahabat memohon pada beliau agar mendoakan dan mengutuk orang musyrik dan kafir, Nabi menjawab: “Aku diutus bukanlah sebagai pembawa kutukan, tetapi aku diutus sebagai pembawa rahmat (bagi semua manusia).” (HR. Muslim). Saya sangat kagum dengan para ulama dan organisasi yang senantiasa menyerukan persatuan umat islam. Jangankan mengstatusi orang lain kafir, mengatakan dirinya muslim sejati saja tidak mau. Karena hanya Allah yang paling tahu apa yang ada di dalam hati.

Saya sungguh rindu Islam yang satu. Tentu bukan berarti meniadakan perbedaan. Tidak mungkin kita berharap Islam seperti masa Nabi Muhammad di mana hanya ada satu organisasi dan pemimpin tunggal. Bagi saya tak ada yang bisa menandingi kebesaran kepemimpinan Nabi dan penyatuan umat pada masa beliau. Terlebih saat ini kita hidup di masa yang berbeda, masyarakat dunia telah berkembang sedemikian rupa. Ada tatanan sistem dan masalah yang tak sama. Namun, Islam yang satu itu berarti persatuan yang bisa berkompromi dengan perbedaan. Tidak saling memerangi, tetapi saling berdialog dan mencari solusi. Bukan mencari siapa yang paling benar, tetapi bagaimana bisa berkolaborasi dan bersinergi dalam kebaikan sesuai dengan bidangnya. Bukan yang saling mencari kelemahan, tetapi saling melengkapi dan menguatkan. 
foto: http://atoenx.blogspot.co.id
Terlalu utopiskah rindu saya ini?

Saturday, June 18, 2016

Bangun Pondasi iman dengan Ilmu


Saya bersyukur, hidup di lingkungan yang cukup baik dengan teman-teman yang beragam karakter, pemikiran dan sudut pandang. Perbedaan tesebut membuat saya belajar, setiap orang memiliki perangkat dalam melihat suatu permasalahan. Satu syukur yang lebih lagi adalah saya memiliki sahabat-sahabat yang bersama mereka saya bertukar pikiran dan mendapat nasehat-nasehat yang baik. Apa yang saya lakukan sekarang, juga buah dari nasehat seorang sahabat yang mulanya justru saya kira adalah seseorang yang aneh dan hanya banyak omong. Sahabat saya ini menasehati saya untuk menuangkan pemikiran dan semua gagasan apapun itu dalam bentuk tulisan. Dan benar adanya, bahwa apa yang kita hasilkan dalam ranah praktis akan berlalu, berubah bahkan hilang, sedangkan pemikiran dapat terus menerus diturunkan, diteruskan dan disempurnakan. Melalui penalah, keinginan tersebut dapat diwujudkan. Sebagaimana kata Pramoedya Ananta Toer: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.
Kita memiliki pemahaman bahwa tidak baik jika iman hanya sekedar iman. Meski yang beriman terhadap Allah tanpa pengetahuan yang cukup adalah lebih baik daripada yang tidak beriman. Namun, selemah-lemahnya iman adalah iman yang tanpa ilmu. Maka semakin kita berilmu akan semakin besar pulalah iman kita. Mereka para pejuang yang senantiasa berada di jalan lurus, yang memegang teguh kebenaran dan waspada untuk tidak tergelincir dalam jalan sesat dan bisikan setan adalah mereka yang benar-benar memiliki ilmu atas apa yang dihadapinya. Maka tiap-tiap hal haruslah selalu digali sunnatullah dan ilmunya. Bahkan yang sudah menjadi kebiasaan dan anggapan dasar banyak orang pun, harus kita imani secara sadar dan dengan ilmu di dalamnya.
Kita sudah memilih Islam sebagai agama yang benar. Kita percaya bahwa Islam adalah agama yang memberi rahmat dan keselamatan. Bagaimana kita bisa percaya, sementara kita tidak menggali setiap kata dalam wahyu-Nya. Kita tidak membaca sejarah perjuangan para teladan agama kita tentang apa yang mereka perjuangkan, bagaimana mereka berjuang dan mengamaliahkan setiap ajaran Islam. Meski kita tidak menempuh karir sebagai pendakwah atau ahli agama, tafsir dan fiqh, namun bukankah Islam adalah jalan hidup? maka siapa yang menganut Islam, mendasarkan seluruh hidupnya dengan nilai Islam. Tidak satupun bagian dari hidupnya yang berjalan tanpa asas Islam, dan tidak pula satu saja bagian dari islam tidak hadir dalam hidupnya.
Tapi memang yang demikian itu sungguh sulit. Sulit karena waktu yang terasa sedemikian sempit dengan target-target pekerjaan dan persoalan kehidupan dunia. Sulit juga karena hawa nafsu yang dimiliki manusia, terlebih ketika lemahnya pengendalian terhadap hawa nafsu sudah menjadi moral. Di sini butuh dorongan yang kuat, usaha yang keras, dan ketahanan. Kita harus bersabar, benar-benar bersabar dalam proses yang penuh dengan tantangan.
Bagaimanapun sulitnya, manusia adalah makhluk berakal. Kendati sebagian orang beranggapan bahwa iman saja sudah mampu menjawab dan mengantarkan pada keselamatan atau ada pula yang berpandangan agar tidak perlu manusia itu terlalu banyak mempertanyakan segala hal. Kenyataannya mereka tidak bisa mengendalikan sunnatullah kediriannya, yang diliputi pertanyaan, yang mencari puncak kebahagiaannya. Dalam mengejar kebahagiaan-kebahagiaan itu mereka akan sampai pada pertanyaan yang sama meski pada waktu yang berbeda, “Apa itu hidup? ke mana ujung dari kehidupan? Bagaimana cara hidup?”
Dalam hal keberagamaan, suatu ketika akan ada di mana muncul pertanyaan seputar pertolongan Allah, ujian Allah, ampunan Allah, dan sebagianya. Ketika manusia berada di sebuah titik masalah yang rumit, di situlah pertanyaan-pertanyaan mendasar mulai muncul. Keimanan yang dibangun seperti apapun pada suatu titik dapat goyah bahkan hancur tanpa didasari ilmu yang benar. Namun ilmu jangan dibayangkan hanya didapat dari bacaan atau buku-buku. Ilmu itu ada dalam kenyataan yang kita temui sehari-hari. Saat kita melihat apa yang ada di rumah, di masyarakat, di langit, di jalan, di manapun ada ilmu yang bisa kita gali. Dari setiap benda dan peristiwa memberikan kita pelajaran yang nyata. Sempatkanlah berpikir dan merenung pada waktu-waktu tertentu agar yang kita lakukan tidak hanya sekedar rutinitas dan ilmu tidak hanya sekedar lewat. Jadilah manusia berilmu, insya Allah akan bertambah iman kita. Jika semakin berilmu, iman kita semakin berkurang, semakin menjadi orang yang sombong maka tentu ada yang salah. Kesalahan itu bisa jadi bukan terletak dari ilmu yang kita pelajari, tetapi dari bagaimana kita mempelajarinya.  
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” Al Baqarah 164.

Friday, June 17, 2016

Sebarkan Virus Kebaikan Lewat Trip ke Zona Madina


Perjalanan buat saya bukan sekedar soal kesenangan semata. Perjalanan bagi saya tidak ada bedanya dengan proses belajar, khususnya adalah proses Iqra’. Dalam perjalanan, saya berusaha memaksimalkan seluruh panca indera saya untuk melihat sekeliling, memahami, mengambil pelajaran dan bisa mendapatkan ilmu atau inspirasi dari sana.
Tidak semua perjalanan yang saya lakukan bisa menyajikan makna tersebut kepada saya, tetapi ada beberapa yang meninggalkan kesan dan inpirasi yang mendalam. Salah satu perjalanan yang berkesan itu adalah kesempatan saya melakukan perjalan ke Zona Madina Dompet Duafa. Tempat ini terletak di Jl. Raya Parung KM 42 Kab Bogor. Bekeliling ke sebuah lembaga zakat, pasti tidak terbayangkan ada hal menarik di sana. Saya awalnya hanya menggambarkan ada kantor, masjid dan mungkin asrama anak-anak duafa atau yatim. Yah seperti kebanyakan lembaga zakat. Namun, saya segera menyingkirkan pikiran tersebut saat mulai melangkah masuk ke bangunan sebuah sekolah bernama Smart Ekselensia.

Saat memasuki lorong sekolah ini, kita akan melihat piala yang berjejer rapi disusun bertingkat. Sudah pasti sekolah ini kaya prestasi baik akademis maupun non akademis. Di sekolah ini SMP-SMA hanya ditempuh dalam waktu 5 tahun. Lumayan kan, bisa menghemat waktu studi 1 tahun dibandingkan sekolah pada umumnya. Fasilitas di sekolah ini juga sangat memadai, ada ruang kelas yang diatur sesuai bidang studi. Jadi di sini sistemnya moving class. Ada gedung pusat sumber belajar yang terdiri dari ruang perpustakaan yang nyaman dengan buku-buku ilmu pengetahuan umum dan agama yang berkualitas. Di lantai 2 gedung ini juga terdapat studio film. Di sini siswa bisa belajar tentang film dan menonton film, tentu saja sudah melalui sensor.
Di sekolah Smart Ekselensia, seluruh siswa diasramakan. Ada ruang tidur siswa lengkap dengan fasilitasnya. Kalau berkunjung ke asrama seperti ini, kita mungkin membayangkan kamar tidur yang berantakan, lantai yang kotor, perkakas berserakan. Itu tidak berlaku di asrama Smart Ekselensia. Kawasan sekolah yang asri serta asrama yang bersih dan rapi adalah pemandangan yang bisa kita lihat.
Kita mungkin akan berpikir, pasti mahal ya sekolah di sini. Eits, jangan salah…semua ini ‘absolutely free’. Bahkan mulai dari makan, sabun, sampoo, deterjen dan lain sebagainya merupakan fasilitas yang disediakan oleh asrama. Tapi tidak semua siswa bisa masuk di sini. Sekolah ini didirikan untuk anak-anak duafa berprestasi yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. 
Buat saya ini luar biasa. Kalau akses menjangkau pendidikan bagi anak duafa mungkin tidak terlalu sulit. Mereka bisa sekolah di sekolah formal ataupun nonformal dengan biaya rendah atau bahkan gratis di daerah tempat mereka tinggal. Namun, tentu saja jangan berharap mendapatkan fasilitas yang memadai. Jangankan fasilitas seperti perpustkaan, laboratorium, studio film yang bagus, bangku sekolah saja kadang sudah tidak memadai. Di sekolah Smart Ekselensia ini, anak-anak duafa justru mendapatkan kualitas pendidikan yang sangat baik. Wajar saja lulusannya kemudian 100% masuk PTN, bahkan sudah ada yang melanjutkan S2 di luar negeri. Sungguh luar biasa, mereka yang awalnya hanya sebagai penerima zakat justru bisa meningkat taraf hidupnya dan menjadi muzaki. Anak-anak ini kemudian bisa berkontribusi dengan profesinya masing-masing di berbagai sektor masyarakat. Bisa mengangkat nama baik keluarga, bangsa bahkan juga identitas muslimnya di kancah yang lebih luas.
Selain mencetak murid yang berkualitas, Dompet Duafa juga mencetak guru yang berkualitas. Tidak hanya menerjunkannya untuk mengajar di kota besar, tetapi di berbagai pelosok desa, di kepulauan dan daerah perbatasan. Jika gurunya hebat, pasti bisa mencetak generasi yang hebat pula. Akses guru berkualitas itu dapat dirasakan oleh siswa-siswa di berbagai pelosok negeri ini.
Setelah berkeliling ke pusat pendidikan, saya bersama rombongan blogger trip menuju area Rumah Sehat Terpadu. Jangan dibayangkan ini seperti tempat rekreasi atau tempat kebugaran dan makanan sehat. Sebenarnya ini adalah rumah sakit, tetapi karena filosofinya rumah sakit itu untuk menyehatkan orang, makanya disebut rumah sehat. Harapannya orang sakit yang dirawat di sini bisa sehat kembali.
Jika kita masuk ke sini, kita seperti masuk di rumah sakit berkelas. Padahal ini adalah rumah sakit yang diperuntukkan untuk duafa tanpa dipungut biaya apapun. Kalau terdaftar jadi member, maka berobat di sini tidak usah bawa uang. Cukup bawa identitas saja. Tentu saja sudah melalui survei yang dilakukan oleh tim DD. Jadi bagi kamu yang mampu, jangan ngaku-ngaku duafa ya. Meskipun gratis, bukan berarti fasilitasnya seadanya. Polinya cukup lengkap dengan peralatan yang memadai. Bahkan tidak jarang juga menjadi rujukan dari klinik dan rumah sakit yang lain.
Di dalam area rumah sakit terdapat ruang terbuka dan taman yang asri. Ini akan membuat pasien nyaman, sehingga bisa semakin mempercepat proses penyembuhan. Karena nyamannya, sampai ada pasien yang setelah sembuh tidak mau pulang. Kata mereka lebih enak di rumah sakit. Makan gratis, tempat tidurnya nyaman, ber-AC, fasilitasnya komplit. Sedangkan rumah mereka sempit dan fasilitasnya tidak seperti di rumah sehat ini. Tapi tetap harus pulang ya setelah sembuh.
Kalau kita perhatikan, di tiap depan kamar perawatan ada nama-nama orang tempampang di situ. Itu adalah nama dari donatur yang telah wakaf untuk pembangunan rumah sakit tersebut. Ada yang wakaf untuk satu ruang tertentu, ada pula yang patungan. Dompet Duafa sengaja menaruh nama-nama tersebut agar senantiasa diingat bahwa rumah sakit tersebut adalah gedung yang dibangun oleh banyak pihak. Banyak pihak yang turut berkontribusi, sehingga ini menjadi amanah yang harus senantiasa dijaga.  
Setelah ke area rumah sakit, kita refreshing dulu sambil ngabuburit. Meski refreshing, tapi tetap bermanfaat yaitu belajar  memanah dan silat. Dua olahraga ini dikembangkan di zona Madina sebagai sarana kesehatan, pelestarian budaya dan sunnah serta memberdayakan masyarakat sekitar, khususnya guru silat. Paling seru saat belajar silat, gurunya jago banget. Meski tidak sampai 30 menit, tapi kita diajari teknik dasar untuk mempertahankan diri dengan cara sangat mudah tapi berkhasiat. Mantab deh pokoknya.
Alhasil, trip yang saya lakukan dari pagi hingga magrib di lahan seluas 7 ha tersebut rasanya sangat masih belum cukup. Seakan butuh waktu lebih banyak untuk bisa mengeksplorasi kawasan terpadu Zona Madina Dompet Duafa. Banyak sekali inspirasi yang bisa digali dari sana. Pengembangan sistem pendidikan berkualitas, pengelolaan ZIS secara profesional dan tepat sasaran, pembangunan generasi muslim yang berilmu dan berakhlak, pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan, manajemen lembaga yang profesional dan masih banyak lagi.   
Saya masih ingat sharing penutup dengan pengurus sebelum acara berakhir bahwa kunci dari pembangunan masyarakat yang berkelanjutan adalah kolaborasi dan bersinergi. Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan, pendidikan dan kemanusiaan di Indonesia ini tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat dan hanya oleh segelintir orang. Perlu ada upaya terus menerus dan massif untuk melakukan kampanye kebaikan. Tidak cukup satu atau dua lembaga yang melakukan suatu gerakan pembangunan. Harus ada kolaborasi dari seluruh elemen, baik pemerintah maupun swasta, di tingkat nasional maupun lokal. Setiap orang di profesi dan perannya masing-masing harus saling bersinergi dan memberikan kontribusi terbaiknya bagi bangsa ini.
Saya sudah lama tahu keberadaan Dompet Duafa, tetapi baru kali ini saya benar-benar tahu tentang kegiatan, pengelolaan dan pembangunan yang sudah dilakukan. Saya merasa tertular virus setelah mengikuti trip ini. Virus itu adalah virus kebaikan dan optimisme dalam berperan di pembangunan Indonesia. Tentu saja, saya tidak mau tertular virus ini sendirian. Saya ingin kalian juga tertular virus kebaikan ini. Mari menularkan virus kebaikan ini sebanyak-banyaknya, melalui kampanye kebaikan dan gerakan kolaborasi untuk Indonesia yang lebih baik.
Mau merasakan pengalaman yang sama? Yuk, kunjungi Zona Madina Dompet Duafa.