Obsesi untuk mencapai target dan berprestasi itu sangat tinggi. Kemenangan buat saya saat itu adalah ketika saya bisa menjalankan tugas-tugas, baik di pendidikan maupun di pekerjaan. Kemenangan bagi saya adalah capaian terukur yang bisa dilihat dengan angka, karya dan pengakuan. Saya akan malu jika kalah. Bukan hanya malu pada lingkungan sosial saya, tetapi juga malu pada Allah. Saya merasa menjadi manusia yang tidak ada gunanya di hadapan Allah, jika saya kalah dan hanya menjadi manusia yang biasa saja.
Suatu ketika, saya merasa berada pada kekahalan yang menurut saya sangat tragis. Saya berada di titik terbawah karena prestasi dan capaian-capaian saya terhempas begitu saja. Saya sempat merasa kalah, tidak berguna dan bertekad suatu ketika akan membalas kekalahan itu. Akan saya tunjukkan suatu ketika, bahwa saya tidaklah seperti apa yang orang bicarakan dan pikirkan tentang saya. Akan saya ganti prestasi yang terhempas itu dengan capaian baru yang jauh lebih baik dari itu. Suatu hari saya bertanya, "Pengakuan dari siapa yang sebenarnya ingin saya dapatkan?".
Hari ini saya masih terobsesi dengan kemenangan, tetapi dengan arti kemenangan yang berbeda. Kemenangan buat saya hari ini adalah istiqomah dalam jalan kebenaran. Jalan kebenaran itu adalah sebuah jalan yang kita lewati dengan iman dan taqwa.
"Hai jiwa yang tenang. Kembalilah
kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam
jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku." (QS Al Fajr 27-30)
Perjalanan dalam iman itu bukan saat kita bisa mengalahkan kompetitor atau musuh yang berwujud manusia-manusia. Adakalanya kemenangan dalam iman itu kita dapatkan saat kita kalah dalam sebuah kompetisi atau perang dengan manusia. Kemenangan dalam iman itu adakalanya bukan saat kita berhasil mendapatkan jabatan tinggi dan karir gemilang, tetapi justru kita dapatkan saat kita kehilangan jabatan, karir, harta bahkan persahabatan. Kemenangan dalam iman itu adakalanya bukan saat kita kuat dalam adu argumen dan pengaruh. Justru saat kita bisa menurunkan ego dan mengalah, bisa jadi kita justru menang.
Buat saya sekarang, kemenangan yang ingin saya capai adalah di saat kondisi saya secara materi terlihat tak memiliki banyak, namun saya masih tak kehabisan syukur. Di saat seperti itu saya malah tak habis-habis menghitung nikmatNya yang berlimpah. Betapa lebih indahnya di saat saya tak memiliki namun justru bisa memberi. Kemenangan yang ingin saya capai adalah di saat kondisi saya serba melimpah secara materi, saya merasa bahwa itu sama sekali bukan milik saya. Itu hanya titipan dari Allah yang harus saya berikan pada yang lebih berhak.
Kemenangan yang ingin saya capai adalah ketika saya jatuh terjerembab, saya merasakan nikmatnya berjuang melawan sakit dan berusaha untuk bangkit. Saat-saat yang akan selalu saya rindukan, karena justru saat itu terasa begitu intim denganNya. Kemenangan yang ingin saya capai adalah saat saya berada di posisi atas, saya ingin buru-buru turun dan menyerahkan estafet perjuangan pada yang lain. Memberi kesempatan pada yang lain untuk tumbuh dan saya bisa menanam benih perjuangan baru lagi untuk diestafetkan pada yang lain lagi.
Tentu saja itu bukan hal yang mudah dan jadi mimpi yang terlalu tinggi untuk saya gapai. Semoga saya bisa bersabar dalam meraih kemenangan itu. Tulisan inipun setidaknya akan jadi pengingat untuk saya di kemudian hari. Tulisan ini akan mengingatkan saya bahwa saya pernah punya harapan akan sebuah kemenangan yang indah. Kemenangan yang sebenarnya, bukan kemenangan semu duniawi.
"Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang" (QS AL Mu'minuun 111)
Mencerahkan sekali tulisannya: definisi kemenangan setiap orang memang beragam.
ReplyDeletefolback my blog:
https://dloverheruwidayanto.blogspot.co.id